Pendekatan Reactive
Mereka yang reactive biasanya melihat suatu masalah sebagai ancaman. Entah ancaman terhadap karirnya, bisnisnya, keluarganya, dan sebagainya. Dalam kelompok ini Anda mencari solusi terhadap masalah dengan menggunakan pendekatan logis dan tradisional. Ciri-cirinya:
- Begitu masalah datang Anda cenderung segera mencari cara apapun untuk mengatasinya.
- Masalah dilihat sebagai faktor penghambat perkembangan diri.
- Anda akan segera menyusun strategi untuk menghadapi masalah
- Karena masalah dilihat sebagai ancaman, dia akan mendominasi pikiran dan cenderung menyebabkan kecemasan dan stress.
Pendekatan Receptive
Pendekatan ini biasanya dipraktekkan oleh mereka yang sudah menyadari bahwa masalah bukanlah ancaman tetapi justru konsekuensi yang timbul dari suatu kondisi yang kita ciptakan. Oleh karena itu kita mempunyai kekuatan untuk mengubah kondisi tersebut dari dalam diri sendiri. Anda mau menerima masalah dan pada saat yang sama membuat solusinya.Ciri-cirinya:
Ketika masalah datang, Anda mengenalinya dan menggunakan pendekatan:
- Masalah merupakan kebalikan dari solusi. Ketika masalah muncul, Anda percaya saat itu juga bahwa solusinya sudah ada.
- Anda fokus kepada solusi dari persoalan yang timbul, bukan pada penyebab dari masalah itu. Dengan demikian Anda mengambil alih kontrol dari dalam diri Anda sendiri, bukannya dikendalikan oleh keadaan di luar.
- Masalah merupakan kesempatan untuk pengembangan diri. Anda melihatnya sebagai peluang untuk meciptakan realitas positif dalam hidup Anda.
Contoh yang paling sederhana adalah ketika pasangan yang Anda cintai (misalnya istri, suami, atau pacar) sedang ngambek karena masalah sepele. Dengan pendekatan reactive, Anda hanya akan memperburuk keadaan dengan bertanya-tanya kenapa dia harus ngambek, menganalisa penyebabnya dan merasa kondisi ini akan mengancam keharmonisan hubungan Anda dengannya. Bukannya solusi yang didapat tetapi justru kecemasan dan kekhawatiran.
Dengan pendekatan receptive, Anda menerima dan menyadari bahwa pasangan Anda sedang marah. Anda fokuskan energi Anda untuk menciptakan kasih sayang yang pada dasarnya merupakan lawan dari kemarahan. Anda tidak larut terbawa suasana – mencoba mencari jawaban dari analisa kenapa dia jadi marah – tetapi mengambil alih kendali dari dalam diri sendiri, tetap berpikir tenang, dan menunjukan sikap positif dalam perilaku Anda. Anda akan rasakan bahwa berada dalam situasi ini justru membuat diri Anda berkembang. Anda membuat kualitas positif dari diri Anda muncul ke permukaan dan sudah menjadi hukum alam dengan bersikap seperti ini pasangan Anda niscaya akan berubah dari marah menjadi cinta.
Pendekatan receptive ini bisa Anda praktekkan di kehidupan bisnis, rumah tangga, dan sosial. Intinya Anda membangun keyakinan bahwa masalah tidaklah nyata sehingga Anda tidak merasa terbebani. Latih diri Anda untuk tidak reaktif ketika suatu masalah muncul. Fokuskan diri Anda pada lawan dari masalah, yaitu solusi, untuk menemukan kendali dan bukannya larut dalam masalah itu.
rasanya pembahasan ini cukup membuat saya butuh berfikir extra, karena usia saya juga baru saja menginjak 16 tahun (hehe) saya memulai blog ini dengan sesuatu yang terlintas di benak saya. Saya adalah ordinary teenager yang memiliki cita-cita sebagai Psikologi.
terlepas dari perkenalan singkat itu dan pemecahan masalah ala dewasa, rasanya lebih comfortable untuk saya untuk membahas bagaimana kita para Teenagers Grow Up and Show Up! menyalurkan segala keingin tahuan kita yang besar pada hal-hal positif... blogging,menulis novel,OSIS,bela diri,teater,etc. adalah pilihan saya untuk menghindari menyalurkan keingin tahuan yang besar pada hal-hal yang negatif. #untungnyasayadapatberfikirrasional ditengah-tengah pergaulan yang sudah sedemikian rupa jelas saya bukanlah anak yang alim-alim banget...
Hangout bareng teman-teman udah pasti jadi pilihan utama saya buat refreshing. NONTON adalah pilihan yang sering kita pilih dan menjadi rutinitas setiap bulan... oke,itu udah mulai melenceng dari topik utama!
OKAY WE BACK AGAIN TO THE FORMULATED THE PROBLEM TO TEENAGERS!
Berbagai masalah remaja tuh biasanya lebih sering menyangkut keluarga, pergaulan,cinta-cintaan,ataupun pelajaran. dan opsi ke 2 ,3,&4 pernah saya alami... sebetulnya saya menyadari itu menjadi salah satu penghantar transisi kita menjadi seorang yang DEWASA.
Setidaknya bagus kalau main set kita "nggak akan terjebak pada lubang yang sama"
jadi,
melalui pemecahan masalah yang dilakukan para Teenagers kalau main set nya seperti diatas pastiiii itu menjadi sebuah hal yang berarti banget buat Future kita...
beberapa keunggulan pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah diantaranya:
a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar